Kamis, 20 Maret 2014

Jokowi Nyapres? Ini Opini Saya!



Beberapa hari terakhir ini, salah satu pemberitaan utama di negeri kepulauan nan makmur namun masih keliru urus ini adalah tentang peristiwa pencalonan Joko Widodo sebagai calon presiden dari Parta PDI-Perjuangan. Setelah berbulan-bulan isu ini menjadi makanan anak-anak negeri yang suka celoteh di media sosial (yang pastinya juga tentang politik), akhirnya positif juga prediksi dan keinginan sebagian masyarakat Indonesia. Kenapa saya sebut sebagian? Karena reaksi terhadap pencalonan Gubernur DKI menjadi calon RI-1 ini juga langsung menuai protes dan pernyataan kecewa, bahkan juga celaan dan hinaan. Di tempat lainnya? Masih banyak juga rakyat Indonesia yang tak kenal tokoh fenomenal yang satu ini.

Pada awalnya, saya tidak begitu tertarik untuk menulis soal ini. Bukan apa-apa. Hanya sedang malas ngobrolin politik nasional dan saat itu Pekanbaru sedang disibukkan dengan #BencanaAsap dan gerakan #MelawanAsap-nya. Tapi setelah beberapa hari terakhir bisa bernafas agak lega dan mata pun membaca isu-isu lain yang muncul, pencalonan seorang Joko Widodo ternyata muncul nyaris disetiap klik dan halaman yang  dikunjungi. Dan ternyata di satu sisi terdapat dukungan dan pujian tentang pencalonan mantan Walikota Solo ini menjadi orang nomor satu di Indonesia, tak sedikit pula hujatan dan cercaan yang muncul. Pendusta dan ingkar janji adalah predikat yang paling sering disandingkan kepada pria berpenampilan sederhana ini. 

Bukan karena saya fans beliau atau bukan pula karena kasihan karena image yg muncul dari tubuhnya yang tidak gagah perkasa seperti superhero luar negeri yang berotot besar. Pendapat ini pendapat pribadi sebagai seorang yang menjalani hidup lebih dari satu dasawarsa di dalam sistem pemerintahan dan hasil penelusuran artikel-artikel berita yang ada di media online.

Dari Pengusaha hingga Menjadi Gubernur DKI
Jokowi awalnya dikenal sebagai pengusaha mebel. Namun karena “kebetulan” (sesuai pendapat beliau sendiri), jadilah Walikota Solo pada tahun 2005. Dianggap berhasil memimpin selama 5 (lima) tahun, Joko Widodo dan F.X. Hadi Rudyatmo pun terpilih kembali memimpin Solo untuk perionde 2010-2015. Namun ternyata kepemimpinan Joko Widodo tidak hingga akhir masa jabatan. Didorong oleh desakan banyak pihak serta dukungan dari sebagian besar masyarakat Solo sendiri, pria lulusan Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada ini maju sebagai calon Gubernur DKI pada Pilgub Tahun 2012 dan berhasil meraih kemenangan bersama-sama dengan Basuki T Purnama (sering disapa dengan panggilan Ahok). Sejak terpilihnya duo dinamis ini, sudah bermacam hal yang dilakukan. Macet dan banjir Jakarta serta “bobrok”nya birokrasi menjadi tantangan sekaligus tugas besar bagi keduanya. 

Pecinta dan Pembenci Jokowi
Sejak munculnya Jokowi dalam percaturan politik Indonesia, terutama setelah menjabat sebagai Gubernur Ibu Kota Negara tercinta ini, terlihat dua kubu pro dan kontra. Cinta dan benci. Yang pro dan cinta tampaknya sudah muncul sejak beliau memimpin salah satu kota di Jawa Tengah dan menguat saat Pilgub DKI 2012. Kelompok ini mengklaim bahwa Jokowi adalah jawaban paling tepat untuk Indonesia dengan gaya kepemimpinan yang segar, sederhana dan apa adanya. Dari berbagai pecinta/pendukung Jokowi, ada kelompok yang mau bertindak apa saja jika ada orang atau kelompok yang “menyerang” idolanya. Di satu sisi keberadaan pecinta ini cukup menarik karena cukup kreatif dalam menampilkan dukungannya kepada Jokowi. Tapi di sisi lain, agak mengkhawatirkan jika kemudian menjadi cinta buta, tidak mau menerima kritik terhadap Jokowi. Yang terakhir ini biasanya merupakan kelompok pecinta “figur” Jokowi. 

Kelompok kontra dan benci Jokowi tidak kalah seru sepak terjangnya. Setiap aktivitas Jokowi ditanggapi dari sisi negatif. Walau sama beragamnya dengan kelompok yang pro, kelompok benci Jokowi lebih terlihat bertujuan untuk merebut simpati rakyat atau yang tidak puas dengan kinerja yang telah dilakukan oleh pria yang sudah memimpin DKI Jakarta selama hampir 2 tahun.  

Pencalonan Jokowi sebagai Capres 
Jokowi makin sering jadi bahan kontroversi saat beliau menerima pencalonan dirinya sebagai calon presiden dari Partai Demokrasi Indonesia – Perjuangan untuk maju ke pesta demokrasi tahun 2014 ini. Sejak Jokowi menerima mandat dari Ketua Umum PDI-Perjuangan, Megawati Sukarno Putri, pada Hari Jumat tanggal 14 Maret 2014, dukungan dan cercaan pun bermunculan. Beberapa kelompok menyayangkan dan mengancam untuk menggugat keputusan Jokowi untuk maju menjadi peserta pesta demokrasi sebagai calon presiden. Beliau dianggap plin-plan dan ingkar janji terhadap warga Jakarta. 

Jokowi Nyapres? Ini Pendapat Saya
Seseorang (atau mungkin semua orang) pasti punya ambisi. Minimal punya visi atau mimpi. Jika tidak? Coba deh evaluasi diri lalu revisi. 

Soal menjadi orang nomer satu di Indonesia bukan impian sedikit orang. Saya pun (pernah) punya mimpi ini. Tak percaya? Coba cek posting lama saya. Tapi kemudian saya cukup sadar diri bahwa modal masih sangat-sangat minim. Bukan hanya soal materi untuk biayai kampanye, sosialisasi dan mobilisasi massa, tapi kesiapan mental dan kemampuan komunikasi dan manajerial. Kenapa modal non material ini menjadi halangan atau hambatan bagi saya? Karena inilah yang paling penting. Seorang (calon) pemimpin harus kuat menghadapi arus deras sistem dan pengaruh dari berbagai kepentingan. Harus kuat menghadapi hujatan (tidak cepat marah atau merajuk) dan pujian (tidak jumawa atau sombong diri). Harus cepat belajar karena tidak ada orang yang tahu dan bisa segalanya. Dengan menjadi pemimpin, seseorang harus bisa dengan segera memetakan wilayah kerjanya. Mana yang kuat, lemah, peluang dan tantangan (analisis SWOT bahasa kerennya). Dan pemimpin itu harus berani memutuskan serta bertanggung jawab dengan keputusannya. Satu keputusan itu akan berpengaruh pada banyak orang (bawahan, keluarga, lingkungan, rakyat dan negara). 

Selain kesiapan diatas, calon pemimpin juga membutuhkan moment atau kesempatan. Dan menurut saya, Jokowi memiliki kesempatan ini. Mungkin beberapa orang mengatakan “bejo”. Benar kata iklan salah satu produk jamu modern, pintar itu kalah dengan bejo. Saya sangat setuju. Orang pintar itu bisa diasah. Tapi keberuntungan dan kesigapan menggunakannya? Tak semua orang sadar untuk melakukannya. Ini menjawab pertanyaan “Kenapa tidak menunggu periode Pemilu berikutnya, setelah penuh menjalankan tugas sebagai Gubernur DKI Jakarta?” Karena inilah kesempatannya. Periode mendatang bisa jadi moment-nya sudah hilang. 

Lalu pertanyaan yang tidak kalah penting. Kenapa harus menjadi RI-1? Menurut pengamatan dan pengalaman pribadi, pengelolaan pembangunan itu adalah sebuah sistem yang sangat besar dan rumit. Semuanya saling terhubung dan memiliki tingkat hubungan yang berbeda-beda antar satu sektor dengan sektor yang lain, antar satu tingkatan hirarki dengan tingkatan hirarki yang lain. Tanpa harus menjadi kuliah umum, pada intinya untuk membuat sistem bekerja baik perlu manajer yang baik. Di Indonesia dengan sistem desentralisasi dan pembagian wewenang dan tugas pusat-daerah, sistem ini semakin ruwet. Belum lagi masalah tumpang tindih aturan atau bahkan aturan yang saling meniadakan. Contoh paling riil adalah masalah penanganan banjir dan macet Jakarta. Tidak bisa hanya bicara soal Jakarta karena yang mempengaruhi lebih besar dari Jakarta. Tidak hanya harus mengendalikan air dan kendaraan di Jakarta namun juga sistem tata air yang lebih luas dan tata niaga kendaraan di Indonesia. Jadi, saya mulai paham kenapa Jokowi “patuh” pada “titah” Ketua Umumnya. Karena dalam kepatuhan itu, Jokowi melihat momen untuk dapat membuat sistem bekerja lebih baik dan lebih cepat lagi. Paling tidak ini yang saya pikirkan jika saya berada di posisi beliau. Jadi, beginilah pendapat saya tentang isu yang masih akan terus santer diberitakan hingga terpilihnya Presiden Indonesia 2014-2019.

Awalnya saya pun tidak setuju Jokowi nyapres. Kasihan Jakarta. Tapi sekarang? Nyapres dong Pak. Biar yang setipe dan yang lebih baik dari Pak Jokowi makin banyak yang muncul ke permukaan untuk jadi pemimpin-pemimpin baru di Indonesia Raya. 

#SaveIndonesia

Pekanbaru, ruang tipi rumah mama, 20 Maret 2014 - 0.16 WIB

2 komentar:

yocelifamily mengatakan...

Walaupun saya pemilih golput, tapi setuju banget sama type kepemimpinan #jokowi, biar kata dia dianggap orang bejo, tapi orang2 seperti dia yg dibutuhkan untuk kemajuan bangsa, kapan ya Riau, atw minimal pekanbaru dapat pemimpin yg seperti ini?

Unknown mengatakan...

Terima kasih untuk komentarnya, Pak Mulyono Yoceli. Untuk Riau dan Pekanbaru, ya kita-kita yang tinggal di dalamnya yang bisa menentukan. Pemimpin yang baik pun tak akan dapat berbuat banyak tanpa dukungan rakyatnya. Makin positif rakyatnya, maka makin mudah pemimpin baik muncul dan memerintah. Tetap semangat ya..