Rabu, 16 Februari 2011

Bergaul.. Susah-susah Gampang...


Usia yang makin matang ternyata tidak selalu diikuti dengan kematangan dan kesiapan mental yang sama matangnya..

Merasa diri sudah bersikap sangat fair dan jujur sejak awal bergaul ternyata tidak cukup untuk menjaga hubungan pertemanan langgeng hingga nanti

Tanpa sadar ternyata ada hati yang tersakiti oleh sikap dan cara hidup yang oleh seseorang terasa sangat wajar karena perjalanan pengalaman yang telah dilalui

Terlebih karena banyak teman-teman lain yang sama sekali tidak keberatan dengan cara pandang dan keputusan yang diambil dalam berteman dan bergaul dengan manusia lainnya..

Pria... Wanita... sama-sama manusianya. Sama-sama memiliki rasa.. sama-sama memiliki hak memilih dan memutuskan..

Agama dan norma sosial memang mengikat namun terkadang sebagai seorang manusia merasa butuh mengikuti kata hatinya.. Karena Hanya Allah semata yang bisa memutuskan apakah kita berdosa atau hanya berbeda..

Namun tetap...

Tiap manusia, pria atau wanita, memiliki hak untuk berpendapat, memilih dan memutuskan..

Karenanya, walau sedikit sedih, seorang manusia harus menghargai keputusan manusia lainnya..

Tetaplah berbahagia, teman.... Karena aku akan selalu tetap menganggapmu teman, walau apa yang telah engkau putuskan untukku..

Jumat, 04 Februari 2011

Belajar dari Suharto dan Mubarak

Kedua tokoh ini dengan cara dan nasibnya masing-masing telah membawa negaranya melangkah maju dari posisi saat pertama kali mereka "menduduki" kursi presiden.
Keduanya mungkin sekali memiliki mimpi indah dan semangat berkobar untuk wujudkan apa yang mereka inginkan mengenai negara yang mereka pimpin..
Untuk beberapa saat (dan bukan masa yang singkat) negara yang mereka pimpin muncul sebagai negara-negara dengan karakter kuat sekaligus stabil..
Namun makin lama berkuasa tentu tidak lepas dari godaan dan gangguan dari kanan dan kiri..

Sebagai tokoh yang beda di puncak piramida, banyak sekali pendukung yang juga ingin melanggengkan posisi dan kesempatan tertentu yang telah mereka dapatkan selama berada di bawah sistem yang ada..
Lamanya berada di posisi puncak sering membuat seorang manusia tidak lagi punya tantangan yang "seimbang".
Terlalu banyak melihat dari atas membuat tokoh-tokoh hebat di masanya ini "jauh" dari akar rumput yang tadi menjadi pendukung setia kepemimpinan mereka
Terlalu banyak hirarki antara dirinya dan rakyat membuat informasi tak lagi sampai dengan murni..
Seperti yang sering disebutkan (termasuk Sang Nabi Muhammad SAW) bahwa titip uang kurang, titip kata-kata berlebih..
Inilah yang mungkin sekali terjadi pada tokoh-tokoh penegak kestabilan negara yang sudah pasti mereka cintai (karena mereka sama-sama ingin mati di negara tempat mereka lahir dan berkarya)
Mereka terlalu lama berada di posisi puncak. Tak tahu lagi mana yang benar-benar tulus membantu atau yang mana yang datang dengan kepentingan pribadi.. Yang paling logis adalah mempercayai istri dan anak-anak yang mereka miliki.
Karena itu tak jarang kemudian muncul istilah menyiapkan putra (atau putri) mahkota untuk menggantikan posisi panas yang mereka pegang terlalu lama.
Sungguh... saya hanya dapat merasakan kesepian yang mereka hadapi setiap harinya entah sejak kapan..

Lalu.....

Rakyat mereka cintai meminta mereka untuk mundur...

Tersentak... kedua tokoh ini langsung bereaksi dengan caranya masing-masing..

Kita sudah melihat keputusan yang diambil Suharto..

Dan kita sedang menunggu, keputusan apa yang akan diambil Mubarak

Mari belajar dari kedua tokoh ini, Saudara-saudaraku...

Terutama yang ingin berada di kursi panas di puncak piramida yang amat sungguh tinggi, dingin dan sepi..