Sabtu, 26 Mei 2018

Hastag #3lauk10ribu

Barusan... Tadi waktu keluyuran di akun-akun twitter, beberapa kali tersandung "batu" yang sama. Bati bukan sembarang batu ternyata sodara-sodara.

Batunya itu hastag atau tagar atau yg lebih sikenal dengan simbol # diikuti hal unik yg jadi pusat perhatian. Nah.. Hastag yang membuatku tersandung itu adalah #3lauk10ribu.

Ada banyak cuitan yg gunakan hastag/tagar ini. Terakhir kali kulihat, sudah lebih 450 cuitan untuk hari ini saja. Dalam 45 menit terakhir, masuk dalam daftar trending topic.

Sejauh yang bisa kutelusuri lewat fasiltas pencarian di Twitter, hastag ini mulai muncul 18 hari yang lalu. Diperkenalkan oleh pemilik akun @hariadhi. Sepertinya saat iti beliau membandingkan aktivitas berbaginya dengan aktivitas serupa yg masuk dalam pemberitaan online.

Terlepas dari aroma politik yang mengikuti hastag ini (toh sekarang-sekarang ini semuanya dipolitisasi), hastag #3lauk10ribu mendapat tanggapan yang sangat menarik. Ada yang asal tempel hastag apapun postingannya.. (Ini mungkin untuk menaikkan rating), tapi tak jarang ada yang berbagi resep, foto masakan sampai kegiatan amal berbuka bersama dengan menyematkan hastag yang membuatku teringat inovasi Pak Buwas sebagai Kepala Bulog dalam menyediakan beras sachet berharga 10rb yang dapat dimasak menjadi 3 porsi nasi.
Mungkin memang ada hubungannya ya.. Saling menginspirasi..

Fenomena lanjutan (bagian yang beramal dengan konsep murah meriah namun tetap bergizi) membuatku teringat pada film dan novel.. Di banyak film dan novel yang pernah kutonton dan kubaca, ada kegiatan dapur umum untuk kaum duafa.

Kegiatan dapur umum ini biasanya kutemukan di film/novel dengan latar belakang dunia modern di tanah Amerika. Walau ada juga yg bersetting di London dan kota besar di Perancis. Di sana kaum terlantar dan tak mampu (gelandangan) memiliki kesempatan untuk bermalam di shelter atau rumah perlindungan.

Namun banyak di antara mereka yang tidak mendapatkan tempat. Mereka inilah yang kemudian tidur di emperan. Beralaskan karton bekas.

Yang menarik adalah upaya banyak pihak, baik perseorangan, keluarga, atau kelompok komunitas, yang aktif membantu saudara-saudara yang kekurangan. Mereka mendirikan dapur umum. Dibuka pada saat2 tertentu dan tersedia gratis untuk siapa saja. Tentu saja sasaran utamanya adalah kaum duafa.

Di Indonesia bagaimana? Sejauh yang kutahu, kegiatan bagi-bagi makan gratis, terutama di bulan Ramadhan begini, diadakan oleh rumah makan dan kelompok komunitas serta individu/keluarga yang ingin beramal. Hanya ocasional alias sekali-sekali. Hanya karena hajat tertentu.

Nah.. Apa ya yang kudapat dari berbagai fenomena di atas?

Jadi kepikiran.. Buat dapur umum.. Untuk kaum duafa. Dengan konsep hastag #3lauk10ribu. Tidak hanya bulan ramadhan begini. Tapi sepanjang tahun.

Menurutmu, bagaimana cara memulainya? Agar niat baik dapat terlaksana baik dan bermanfaat baik.

Pekanbaru, di ruang tipi, masih ditemani footsie..

#3lauk10ribu #ramadhan #amal #SebarHalBaik #BerhentiDiam


Rabu, 23 Mei 2018

Surat Terbuka untuk Presiden

Surat Terbuka untuk Presiden..

Yang Terhormat,
Bapak Joko Widodo
Selaku Presiden Republik Indonesia

Pertama-tama, saya mendoakan agar Bapak dalam keadaan baik, sehat serta bahagia dalam berkah Tuhan Yang Maha Esa.

Selanjutnya, izinkan saya memperkenalkan diri dan maksud ditulisnya surat terbuka ini.
Saya, Vitria Sushanti, adalah salah satu pegawai negeri sipil daerah, yang saat ini disebut sebagai aparatur sipil negara (ASN), sudah bertugas di Pemerintah Kota Pekanbaru sejak awal tahun 2002. Selama lebih dari 15 tahun bertugas, saya akui saya belumlah merupakan ASN yang baik dan benar-benar taat dan disiplin. Namun.. Terlepas dari kekurangan dan kelemahan saya, satu yang tetap saya pegang teguh adalah keinginan saya sebagai seorang warga negara yang diberi kesempatan mengabdi pada negerinya, untuk dapat berbuat semampunya bagi bangsa dan negara yang sangat saya cintai ini.

Sebagai ASN, saya memulai tugas di pemerintahan berbekal ilmu perencanaan wilayah dan  kota, atau yang lebih kerennya dikenal dengan sebutan sarjana planologi. Ilmu ini membawa saya kepada begitu banyak pengalaman dan keinginan besar untuk perbaiki kondisi bangsa. Atau minimal daerah tempat saya tinggal, Kota Pekanbaru dan Propinsi Riau.

Saya sangat berterima kasih pada dua tokoh yang mewawancarai saya sewaktu seleksi cpns 2001 lalu, yang telah percaya pada saya hingga merekomendasikan saya sebagai cpns saat itu. Keduanya, yang saat itu adalah Wakil Walikota Pekanbaru dan Kepala Dinas Tata Kota Pekanbaru, telah sama-sama berpulang, adalah guru dan mentor saya selama bertugas dan mengembangkan diri, baik dalam lingkungan kerja kedinasan maupun organisasi profesi perencanaan wilayah dan kota, yang lebih dikenal sebagai Ikatan Ahli Perencanaan (IAP) Propinsi Riau. Mereka berdua pula yang menuliskan rekomendasi bagi saya saat mendaftarkan diri sebagai mahasiswa S2 MPWK-ITB program beasiswa Bappenas pada tahun 2008 yang dengan sangat menyesal tidak berhasil saya selesaikan. Mereka pula yang lalu terus membesarkan hati saya dan meyakinkan bahwa gelar S2 bukan segalanya. Yang penting keinginan untuk terus berkarya bagi daerah dan negara.

Dan berdasar latar belakang itulah saya menulis surat ini. Surat yang sebenarnya sudah saya coba buat di fasilitas pesan facebook, namun entah kenapa, hilang tanpa bekas sebelum sempat saya klik send. Surat ini mengenai kekhawatiran saya pada kepedulian negara, dalam hal ini utamanya adalah pemerintah dan pemerintah daerah, pada maksud, tujuan, dan fungsi penataan ruang.

Harus diakui, perencanaan tata ruang bukanlah hal asing di Indonesia. ITB dan UNISBA adalah perguruan tinggi negeri dan swasta yang paling senior dalam mencetak lulusan dan praktisi perencana wilayah dan kota untuk Indonesia. Di dalam sistem penyelenggaraan pemerintahan, perencanaan wilayah dan kota menjadi salah satu tugas utama, berada dalam kewenangan Kementerian Pekerjaan Umum (dulu) dan Kementerian Agraria dan Penataan Ruang (sekarang).

Saya akui saya sangat berharap banyak pada saat awal masa pemerintahan Bapak Presiden, saat Direktorat Penataan Ruang (Wilayah dan Kota) dipindah dari PU ke Agraria. Saya rasa saya dapat memahaminya dan sangat menyetujui keputusan tersebut. Kenapa? Karena perencanaan ruang wilayah desa dan kota, Nasional sampai Kecamatan, bahkan kawasan-kawasan khusus, sangat tergantung pada kelayakan dan ketersediaan lahan. Dengan maraknya masalah konflik agraria, saya merasa yakin Bapak Presiden dan tim saat itu juga berpikiran serupa. Ingin menyelesaikan konflik dengan perencanaan yang tepat dan hendak menghasilkan dokumen perencanaan yang efektif dengan legalitas lahan yang jelas.

Namun.. Hingga 3,5 tahun perjalanan pemerintahan yang Bapak Presiden pimpin, saya justru melihat penurunan drastis kualitas kepedulian terhadap perencanaan wilayah dan kota. Dokumen-dokumen disusun hanya untuk memenuhi persyaratan administrasi perencanaan pembangunan. Dirjen Penataan Ruang malah terkesan tenggelam, sementara Kementerian ATR disibukkan dengan penerbitan jutaan sertifikat gratis di seluruh negeri.

Jangan salah, Pak. Saya tidak menganggap penerbitan sertifikat tanah masyarakat itu salah. Itu benar-benar melegakan. Karena saya tahu betul bahwa sertifikasi lahan di Indonesia adalah tugas teman-teman yang berdinas di Kementerian Agraria (dulu Badan Pertanahan Nasional). Saya pernah mengikuti workshop tentang hal ini, tak lama setelah peristiwa Tsunami Aceh, yang mengamanatkan dan menugaskan BPN saat itu utk mendata dan memfasilitasi penerbitan surat tanah untuk seluruh negeri. Betapa melegakan.. Walau harus menunggu belasan tahun sebelum akhirnya teman-teman BPN terlihat kinerja utamanya.

Namun... Pendataan tanah hak dan sertifikasinya hanyalah bagian kecil dari sistem tugas yang seharusnya diemban dan dilaksanakan oleh Kementerian ATR. Konflik agraria masih terus terjadi. Serobot tanah masih terjadi. Sulitnya pembangunan infrastruktur karena "tak relanya" masyarakat pemegang hak masih sering terjadi. Dan yang mirisnya, saya tak melihat kiprah teman-teman Penataan Ruang dalam sistem kerja ini.

Apa yang terjadi, pak? Bukannya makin bergas, sub lembaga yang saat saya dulu masih aktif bertugas di penataan ruang Kota Pekanbaru (saat ini saya bertugas di bidang perumahan permukiman), sering menjadi tempat saya berdiskusi dan berkonsultasi, tak terdengar lagi. Mereka malah menjadi, maaf, mandul.
Kinerjanya tersalib teman-teman bidang ekonomi, yang maaf kata, suka sekali bermain di angka agregat tanpa benar-benar peduli bagaimana angka-angka itu berasal dan bercerita.

Padahal.. Saya tahu dan yakin benar bahwa tata ruang adalah landasan bagi pelaksanaan pembangunan. Tata ruang adalah roh dari pembangunan. Yang menjadi dasar terpenting pengambilan keputusan tahapan dan prioritas anggaran belanja negara dan daerah. Kenapa? Karena dalam dokumen perencanaan tata ruang yang baik akan menggambarkan hubungan antara sumber daya alam, sumber daya manusia dan sumber daya modal. Artinya, dinamika ketiga elemen besar ini yang menjadi dasar penetapan struktur dan fungsi ruang. Yang menjadi dasar menetapkan kawasan pertanian abadi, baik sebaran, luasan dan jenis komoditi yang paling cocok. Yang juga menjadi landasan pikir dan penetapan jaringan baru rel kereta api cepat atau double track. Yang menjadi landasan penetapak kawasan permukiman berimbang, baik untuk strata kemampuan ekonomi maupun keragaman agama, etnis dan budaya.

Jika perencanaan tata ruang menjadi pemikiran dasar, dan dilaksanakan dengan baik dan sepenuh hati, saya percaya, Indonesia yang adil, Indonesia yang aman, Indonesia yang ramah, dan Indonesia yang memimpin dunia, akan lebih mudah dan cepat terwujud.

Demikian surat ini saya susun dan publikasi. Untuk dapat menjadi perhatian Bapak Presiden dan seluruh bangsa Indonesia, di momen bulan suci Ramadhan, agar perpecahan yang sepertinya sedang akan terjadi, tidak akan terjadi. Dan semua anak bangsa akan bekerja sama dengan rela, membangun negerinya, sesuai dengan kemampuan masing-masing. Bersinergi, bukannya malah berdebat tunjukkan kehebatan seorang diri.

Malam Ramadhan malam yang suci,
Anak-anak riuh rendah sama-sama mengaji,
Indonesia adalah bangsa yang sangat kami cintai,
Keringat dan darah kan rela tumpah demi pastikan negara ini tetap berdiri.

Pekanbaru, di ruang tipi, ditemani footsie, jelang dini hari
23 Mei 2018. 00.30 Wib

Sabtu, 19 Mei 2018

Postingan Sekenanya

Hai..hai...

Ternyata belum bisa menepati janji kepada diri sendiri.

Janjinya mau posting tulisan setidaknya sekali seminggu. Tapi kenyataannya? Hahahaha... Mohon dimaafkan ya..

Bukan karena kekurangan bahan cerita. Malah sebaliknya. Terlalu banyak. Jadi galau sendiri apa yg mau dishare ke publik.

Terlalu banyak peristiwa yang terjadi sejak terakhir posting.

Ada peristiwa yang sangat menggoncang rasa kemanusiaan. Jawa Timur diguncang ledakan bom. Sasarannya rumah ibadah. Korbannya ga sedikit. Di Pekanbaru, kota tempatku tinggal, juga mengalami serangan terduga teroris. Kali ini sasarannya markas polisi.

Duh. Hati ini rasanya...... (Belum bisa diungkapkan). Pikiran penuh dengan pertanyaan dan analisis2.

Akhir2nya cuma bisa panjatkan doa. Untuk semua kita. Baik pelaku, korban maupun saudara sebangsa.

Daaann... Akhirnya tulisan yang berhasil tersusun malah seperti ini. Sekedar curhat.

Tapi ga apa-apalah.. Dari pada ga ada postingan.

Doakan.. Semoga dalam waktu dekat ada tulisan yang lebih terstruktur dan terarah maksud dan tujuannya.

Selamat nikmati malam minggu pertama di bulan Ramadhan tahun ini.

Di ruang tipi, sambil lihat Pak Putu Wijaya di layar kaca.

Sabtu, 28 April 2018

Belajar (kembali) Menulis

Halo..halo...

Sudah lama tidak visit halaman sendiri, ternyata postingan terakhir sudah 4 tahun yang lalu.

Walah.... Benar-benar abai ya diriku ini..

Lalu apa lantas dengan ketiadaan tulisan artinya tidak pernah ngobrol?

Sama sekali ga mungkiinnn....
Sediam-diamnya diriku (seperti musim rontok bulu pada burung murai batu), pasti ada percikan obrolan yang terjadi.
Tapi.... Ya itu. Tidak terdokumentasi dan terkena virus malasisasi yang kemudian membuat makin panjangnya masa hibernasi dan bekunya motivasi untuk berbagi.

Nah... Saat ini rasanya perlu untuk belajar lagi. Untuk kembali lagi menulis. Obrolan yang begitu banyak dan penuh arti dengan teman-teman sejati sudah waktunya dinapaktilasi, tak cuma di simpan di dalam hati. Yang ada nanti malah basi.

Vitri ga janji bisa menulis kembali semua obrolan yang pernah terjadi dalam rentang waktu 2014-2018 secara lengkap. Selain karena ada yang sifatnya sangat pribadi dan dalam lingkup privasi, ternyata ada juga fragmen ingatan yang tak lengkap. Jadi tak layaklah untuk disebarkan ke khalayak.

Yah.. Sekian dulu tulisan pembuka di tahun 2018 sebagai bentuk upaya belajar kembali. Kembali menulis dan berbagi kisah dan cerita. Selamat menunggu cerita-cerita obrolan berikutnya..

Tolong doakan juga agar diriku tepati janji. Menulis dan membaginya di sini. Minimal seminggu sekali.

Salam belajar,

Vitria Sushanti

#vitriana2018 #belajarlagi #sinaumeneh #ngobrolbarengvitri #nbv

Minggu, 23 Maret 2014

Kekuatan Cinta


Hanya cerita. Yang muncul di kepala..

Alkisah di sebuah kegiatan kelompok pengajian perempuan, sang pemimpin (guru) memberikan pertanyaan pada para anggota (murid)nya.

Diantara pilihan laki-laki ini, mana yang baik untukmu?
Pertama, (a) yang beragama atau (b) yang tidak beragama
Kedua, (a) yang memiliki harta (b) yang tidak tidak memiliki harta
Ketiga, (a) yang selalu baik perilakunya atau (b) yang buruk perilakunya

Para murid yang jumlahnya tak lebih dari 10 orang itu menuliskan jawabannya di atas sebuah kertas lalu menyerahkan kepada sang guru. Sembilan memilih (a) untuk ketiga pilihan lelaki. Satu orang tidak memilih satupun, hanya menuliskan “semuanya baik, asal dia benar-benar mencintaiku”.

Sang guru sangat heran dengan jawaban yang sungguh berbeda ini. Maka ditanyakanlah pada si murid.
Guru    :     wahai murid, kenapa engkau tidak memilih salah satu dari pilihan yang ada?
Murid  :     saya tidak bisa memilih salah satu dari mereka, Guru.
Guru    :     Kenapa tidak bisa?
Murid  :     Karena saya tidak tahu apakah laki-laki itu mencintai saya dengan sebenar-benarnya.
Guru  :     Apakah artinya jika seorang laki-laki mencintaimu, engkau akan menganggap dia baik bagimu walau dia tidak beragama, tidak berharta, dan buruk perilakunya?
Murid  :     Hanya jika laki-laki itu benar-benar mencintai saya, maka benar, Guru.

Murid-murid yang lain mulai berbisik-bisik. Sang Guru tersenyum dan meminta murid-muridnya untuk tenang. Lalu ia kembali bertanya,

“Wahai murid, coba jelaskan maksudmu. Kami ingin sekali mendengarkan alasan jawabanmu yang sangat tidak biasa ini.”

Lalu sang murid pun menjelaskan
“Saat seorang laki-laki datang padaku dan ia mencintaiku dengan sebenar-benarnya dan dengan sungguh-sungguh, maka ia akan berusaha membuatku bahagia, apapun caranya. Saat ia melihatku menjalankan ibadahku dengan baik dan tekun. Saat ia mendengarkan doaku untuk mendapatkan seseorang yang dapat kuajak beribadah dan memuji Tuhan bersama, ia yang tidak beragama akan berusaha mencari tahu apa agama yang kuanut. Saat itulah, aku akan membuatnya melihat dan mengalami indahnya agama dan ibadahku kepada Tuhan. Maka saat itu ia akan beragama. 

“Lalu saat seorang laki-laki datang padaku tanpa harta sebutir pasir pun namun ia mencintaiku dengan sebenar-benarnya dan dengan sungguh-sungguh, maka ia akan berusaha membuatku bahagia. Ketika dilihatnya aku membutuhkan harta untuk mencukupkan hidup di dunia tanpa berkelebihan tak berguna, ia akan mencari cara untuk mencari dan mengumpulkan harta untukku. Maka saat itu dia akan berharta.

“Lalu saat seorang laki-laki datang padaku dengan perilaku buruk namun ia mencintaiku dengan sebenar-benarnya dan dengan sungguh-sungguh, maka ia akan berusaha membuatku bahagia. Ketika dilihatnya aku membutuhkan senyum, dan tutur kata yang sopan serta penuh kasih kepada semua makhluk, maka ia akan berusaha mengubah perilakunya untuk melihat cahaya di mataku ketika memandangnya. Maka saat itu ia akan berperilaku baik.”

Sang Guru terdiam, terkesima mendengar penjelasan sang murid. Tapi ia masih penasaran. Maka kembali ia bertanya,

Guru   :     Wahai murid. Sungguh indah penjelasanmu. Namun jika engkau begitu percaya pada cinta, apakah engkau akan merasa sedih saat ada seorang laki-laki yang beragama, berharta serta berperilaku baik namun tidak mencintaimu?

Murid :     Wahai guruku, aku akan sedih saat laki-laki, apapun agamanya, berapapun hartanya, dan sebagaimanapun perilakunya, mengatakan mencintaiku namun tidak sungguh-sungguh.


 Pekanbaru, 23 Maret 2014. 13.39


Sabtu, 22 Maret 2014

Megawati-Sukarno-Jokowi dan Saya




Agak susah menilai sosok Megawati. Entah apa yg ada di dalam pikirannya. Sayang saya tak pernah benar-benar mencari tahu soal beliau. Namun tampaknya sama halnya dengan menelisik isi pikiran Sukarno, ayahnya. Di kala dunia mengecam komunisme, beliau malah menyatukannya dalam suatu paham NASAKOM. Kalo sekarang ini beliau ngomong begitu, tak terbayang reaksi yg muncul di berbagai medsos. Lihatlah wanita2 yang dipilih menjadi pasangan atau dikaguminya. Semuanya dengan latar belakang berbeda-beda namun cinta pada negara yang sangat indah ini. Dan lihatlah hubungannya dengan orang-orang di sekitarnya. 

Tak semua sepaham dengannya, tapi tak menghalanginya untuk terus menjalin tali silaturahim. Karenanya ia tak rela anak bangsa terkotak-kotak dan terpecah. Kata salah satu guru saya, Sukarno adalah seorang nasionalis idealis. Ia sangat mencintai INDONESIA. Ia sangat mencintai BANGSA dan RAKYATnya. Ia membanggakan kebhinekaan yang ada karena ia pun lahir dari banyak budaya. 

Saya mungkin subjektif karena tulisan beliau adalah yang saya baca pertama kali. Saya bisa jadi tersihir karena suara pidatonya yang lantang yang sering diulang-ulang di telinga saya sewaktu kecil. Tapi menurut saya, beliau adalah panutan yang saya pegang dalam mencintai negeri tempat saya lahir, dibesarkan, dan mudah2an mati nanti.

Lalu Jokowi. Orang “biasa” yang tiba2 jadi fenomenal. Tak kenal langsung dan belum sempat membaca pengakuannya tentang perjalan hidup sehingga tak juga bisa banyak tahu isi pikirannya. Tapi yang ditangkap dari apa yang dilihat melalui media. Ekspresi wajahnya menunjukkan kesungguhan akan sesuatu. Lelah namun tak mau menyerah. Subjektif? Mungkin. Tapi biarlah

Sukarno-Megawati-Jokowi. Apapun isi kepala mereka, saya yakin ketiganya sangat CINTA pada INDONESIA.  

Pekanbaru, 22 Maret. Lagi2 di ruang makan rumah mama, 20.34 WIB

Kamis, 20 Maret 2014

Jokowi Nyapres? Ini Opini Saya!



Beberapa hari terakhir ini, salah satu pemberitaan utama di negeri kepulauan nan makmur namun masih keliru urus ini adalah tentang peristiwa pencalonan Joko Widodo sebagai calon presiden dari Parta PDI-Perjuangan. Setelah berbulan-bulan isu ini menjadi makanan anak-anak negeri yang suka celoteh di media sosial (yang pastinya juga tentang politik), akhirnya positif juga prediksi dan keinginan sebagian masyarakat Indonesia. Kenapa saya sebut sebagian? Karena reaksi terhadap pencalonan Gubernur DKI menjadi calon RI-1 ini juga langsung menuai protes dan pernyataan kecewa, bahkan juga celaan dan hinaan. Di tempat lainnya? Masih banyak juga rakyat Indonesia yang tak kenal tokoh fenomenal yang satu ini.

Pada awalnya, saya tidak begitu tertarik untuk menulis soal ini. Bukan apa-apa. Hanya sedang malas ngobrolin politik nasional dan saat itu Pekanbaru sedang disibukkan dengan #BencanaAsap dan gerakan #MelawanAsap-nya. Tapi setelah beberapa hari terakhir bisa bernafas agak lega dan mata pun membaca isu-isu lain yang muncul, pencalonan seorang Joko Widodo ternyata muncul nyaris disetiap klik dan halaman yang  dikunjungi. Dan ternyata di satu sisi terdapat dukungan dan pujian tentang pencalonan mantan Walikota Solo ini menjadi orang nomor satu di Indonesia, tak sedikit pula hujatan dan cercaan yang muncul. Pendusta dan ingkar janji adalah predikat yang paling sering disandingkan kepada pria berpenampilan sederhana ini. 

Bukan karena saya fans beliau atau bukan pula karena kasihan karena image yg muncul dari tubuhnya yang tidak gagah perkasa seperti superhero luar negeri yang berotot besar. Pendapat ini pendapat pribadi sebagai seorang yang menjalani hidup lebih dari satu dasawarsa di dalam sistem pemerintahan dan hasil penelusuran artikel-artikel berita yang ada di media online.

Dari Pengusaha hingga Menjadi Gubernur DKI
Jokowi awalnya dikenal sebagai pengusaha mebel. Namun karena “kebetulan” (sesuai pendapat beliau sendiri), jadilah Walikota Solo pada tahun 2005. Dianggap berhasil memimpin selama 5 (lima) tahun, Joko Widodo dan F.X. Hadi Rudyatmo pun terpilih kembali memimpin Solo untuk perionde 2010-2015. Namun ternyata kepemimpinan Joko Widodo tidak hingga akhir masa jabatan. Didorong oleh desakan banyak pihak serta dukungan dari sebagian besar masyarakat Solo sendiri, pria lulusan Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada ini maju sebagai calon Gubernur DKI pada Pilgub Tahun 2012 dan berhasil meraih kemenangan bersama-sama dengan Basuki T Purnama (sering disapa dengan panggilan Ahok). Sejak terpilihnya duo dinamis ini, sudah bermacam hal yang dilakukan. Macet dan banjir Jakarta serta “bobrok”nya birokrasi menjadi tantangan sekaligus tugas besar bagi keduanya. 

Pecinta dan Pembenci Jokowi
Sejak munculnya Jokowi dalam percaturan politik Indonesia, terutama setelah menjabat sebagai Gubernur Ibu Kota Negara tercinta ini, terlihat dua kubu pro dan kontra. Cinta dan benci. Yang pro dan cinta tampaknya sudah muncul sejak beliau memimpin salah satu kota di Jawa Tengah dan menguat saat Pilgub DKI 2012. Kelompok ini mengklaim bahwa Jokowi adalah jawaban paling tepat untuk Indonesia dengan gaya kepemimpinan yang segar, sederhana dan apa adanya. Dari berbagai pecinta/pendukung Jokowi, ada kelompok yang mau bertindak apa saja jika ada orang atau kelompok yang “menyerang” idolanya. Di satu sisi keberadaan pecinta ini cukup menarik karena cukup kreatif dalam menampilkan dukungannya kepada Jokowi. Tapi di sisi lain, agak mengkhawatirkan jika kemudian menjadi cinta buta, tidak mau menerima kritik terhadap Jokowi. Yang terakhir ini biasanya merupakan kelompok pecinta “figur” Jokowi. 

Kelompok kontra dan benci Jokowi tidak kalah seru sepak terjangnya. Setiap aktivitas Jokowi ditanggapi dari sisi negatif. Walau sama beragamnya dengan kelompok yang pro, kelompok benci Jokowi lebih terlihat bertujuan untuk merebut simpati rakyat atau yang tidak puas dengan kinerja yang telah dilakukan oleh pria yang sudah memimpin DKI Jakarta selama hampir 2 tahun.  

Pencalonan Jokowi sebagai Capres 
Jokowi makin sering jadi bahan kontroversi saat beliau menerima pencalonan dirinya sebagai calon presiden dari Partai Demokrasi Indonesia – Perjuangan untuk maju ke pesta demokrasi tahun 2014 ini. Sejak Jokowi menerima mandat dari Ketua Umum PDI-Perjuangan, Megawati Sukarno Putri, pada Hari Jumat tanggal 14 Maret 2014, dukungan dan cercaan pun bermunculan. Beberapa kelompok menyayangkan dan mengancam untuk menggugat keputusan Jokowi untuk maju menjadi peserta pesta demokrasi sebagai calon presiden. Beliau dianggap plin-plan dan ingkar janji terhadap warga Jakarta. 

Jokowi Nyapres? Ini Pendapat Saya
Seseorang (atau mungkin semua orang) pasti punya ambisi. Minimal punya visi atau mimpi. Jika tidak? Coba deh evaluasi diri lalu revisi. 

Soal menjadi orang nomer satu di Indonesia bukan impian sedikit orang. Saya pun (pernah) punya mimpi ini. Tak percaya? Coba cek posting lama saya. Tapi kemudian saya cukup sadar diri bahwa modal masih sangat-sangat minim. Bukan hanya soal materi untuk biayai kampanye, sosialisasi dan mobilisasi massa, tapi kesiapan mental dan kemampuan komunikasi dan manajerial. Kenapa modal non material ini menjadi halangan atau hambatan bagi saya? Karena inilah yang paling penting. Seorang (calon) pemimpin harus kuat menghadapi arus deras sistem dan pengaruh dari berbagai kepentingan. Harus kuat menghadapi hujatan (tidak cepat marah atau merajuk) dan pujian (tidak jumawa atau sombong diri). Harus cepat belajar karena tidak ada orang yang tahu dan bisa segalanya. Dengan menjadi pemimpin, seseorang harus bisa dengan segera memetakan wilayah kerjanya. Mana yang kuat, lemah, peluang dan tantangan (analisis SWOT bahasa kerennya). Dan pemimpin itu harus berani memutuskan serta bertanggung jawab dengan keputusannya. Satu keputusan itu akan berpengaruh pada banyak orang (bawahan, keluarga, lingkungan, rakyat dan negara). 

Selain kesiapan diatas, calon pemimpin juga membutuhkan moment atau kesempatan. Dan menurut saya, Jokowi memiliki kesempatan ini. Mungkin beberapa orang mengatakan “bejo”. Benar kata iklan salah satu produk jamu modern, pintar itu kalah dengan bejo. Saya sangat setuju. Orang pintar itu bisa diasah. Tapi keberuntungan dan kesigapan menggunakannya? Tak semua orang sadar untuk melakukannya. Ini menjawab pertanyaan “Kenapa tidak menunggu periode Pemilu berikutnya, setelah penuh menjalankan tugas sebagai Gubernur DKI Jakarta?” Karena inilah kesempatannya. Periode mendatang bisa jadi moment-nya sudah hilang. 

Lalu pertanyaan yang tidak kalah penting. Kenapa harus menjadi RI-1? Menurut pengamatan dan pengalaman pribadi, pengelolaan pembangunan itu adalah sebuah sistem yang sangat besar dan rumit. Semuanya saling terhubung dan memiliki tingkat hubungan yang berbeda-beda antar satu sektor dengan sektor yang lain, antar satu tingkatan hirarki dengan tingkatan hirarki yang lain. Tanpa harus menjadi kuliah umum, pada intinya untuk membuat sistem bekerja baik perlu manajer yang baik. Di Indonesia dengan sistem desentralisasi dan pembagian wewenang dan tugas pusat-daerah, sistem ini semakin ruwet. Belum lagi masalah tumpang tindih aturan atau bahkan aturan yang saling meniadakan. Contoh paling riil adalah masalah penanganan banjir dan macet Jakarta. Tidak bisa hanya bicara soal Jakarta karena yang mempengaruhi lebih besar dari Jakarta. Tidak hanya harus mengendalikan air dan kendaraan di Jakarta namun juga sistem tata air yang lebih luas dan tata niaga kendaraan di Indonesia. Jadi, saya mulai paham kenapa Jokowi “patuh” pada “titah” Ketua Umumnya. Karena dalam kepatuhan itu, Jokowi melihat momen untuk dapat membuat sistem bekerja lebih baik dan lebih cepat lagi. Paling tidak ini yang saya pikirkan jika saya berada di posisi beliau. Jadi, beginilah pendapat saya tentang isu yang masih akan terus santer diberitakan hingga terpilihnya Presiden Indonesia 2014-2019.

Awalnya saya pun tidak setuju Jokowi nyapres. Kasihan Jakarta. Tapi sekarang? Nyapres dong Pak. Biar yang setipe dan yang lebih baik dari Pak Jokowi makin banyak yang muncul ke permukaan untuk jadi pemimpin-pemimpin baru di Indonesia Raya. 

#SaveIndonesia

Pekanbaru, ruang tipi rumah mama, 20 Maret 2014 - 0.16 WIB